Pagi ini, aku mendadak terbangun, seperti pagi – pagi sebelumnya selama seminggu ini. Aku sudah terbangun pukul setengah 5 pagi, biasanya aku terbangun pukul setengah 6 pagi. Ini semua bisa terjadi karena belakangan ini aku mengalami mimpi buruk.
Setelah aku merapikan diriku dan kamarku, aku keluar dari apartemenku untuk membeli sarapan, padahal apartemenku menyediakan pelayanan kamar untuk sarapan, tapi menu yang membosankan telah membuatku tidak memesannya. Aku memutuskan membeli roti bertabur tebal keju parut di Holland Bakery yang tepat berada di seberang apartemenku. Sedangkan minumnya aku sudah membeli hot cappuccino di kedai kopi di lobi utama apartemenku. Aku menikmati keduanya di kursi sekitaran trotoar depan toko.
Daripada aku memikirkan mimpi burukku yang belakangan ini kualami, lebih baik aku mengingat – ingat janji apa saja yang akan kutepati di akhir pekan ini setelah lelah survey bersama teman – teman sekantorku pikirku. Namun, berbicara mengenai pekerjaanku, kebetulan sesuai dengan hasil sekolahku selama ini. Aku seorang lulusan S2 Psikologi di Jerman. Sekarang, aku bekerja di sebuah perusahaan yang meriset segala sesuatu yang berkaitan dengan kejiwaan dan kehidupan sosial masyarakat. Bagaimanapun, kami hanya berwenang sampai mengumpulkan data, tidak pada kesimpulan.
Kembali lagi pada janjiku. Sebenarnya, aku ingin sekali malam ini bersama kekasihku, Tamara. Ia cantik bagiku, aku sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya. Bagaimana tidak, aku sudah menyimpan perasaanku sejak bertemu dengannya ketika SMA dulu. Namun sayang, malam ini ia ada janji dengan teman lamanya. Kebetulan, Joan, temanku saat SMP, mengajakku bertemu petang ini. Ia ingin banyak cerita denganku dan kebetulan lagi, baru saja ia bersama timnya memenangkan tender yang hasilnya tidak kecil.
Aku menikmati sarapanku sambil ditemani burung – burung dara liar. Tiba –tiba, Rosiana, temanku ketika kuliah psikologi di ibukota ini, duduk di sebelahku. Ia tidak begitu cantik bagiku, tetapi seingatku tidak sedikit laki – laki yang ingin menjadi kekasihnya. Kemudian, ia mengajakku mengobrol banyak hal, terutama saat kami kuliah dulu. Ia banyak bercerita karena memang kali ini adalah pertemuan kami yang pertama kali sejak wisuda kami sekitar hampir 6 tahunan yang lalu.
Pertemuan kami tidak singkat. Rosiana kerasan sekali seharian bersamaku. Tidak di satu tempat saja aku berbincang dengannya. Awalnya, di tempat aku menikmati roti dan kopiku. Berlanjut di taman kota, lalu taman bermain. Kemudian, setelah kami makan siang di sebuah restoran sunda, kami menonton film di studio bioskop secara dadakan sehingga mendapat tempat duduk di barisan paling depan. Syukur, bahan pembicaraan aku dan dia tidak ada habisnya.
Tidak terasa, sudah pukul 3 sore. Waktu yang telah memisahkan kami, waktu pula yang telah memberi kami kesempatan untuk bersua. Setelah kami menghabiskan waktu, kami berakhir di sebuah toko es krim. Kami menikmati es krim cone sambil berjalan dan pertemuan kami benar – benar berakhir ketika aku pamit untuk masuk ke apartemenku.
Aneh, aku malah merasakan kesan yang berbeda setelah bertemu dengannya lagi. Rosiana lebih attractive dari sebelumnya. Namun, aku segera membredel pikiranku yang tidak – tidak. Lebih baik aku bersiap untuk bertemu dengan Joan daripada memikirkannya lagi, lagipula ada Tamara di hatiku.
Sore ini, aku berpakaian perlente karena Joan memintaku seperti ini. Dulu kami termasuk dari sedikit murid yang berpakaian rapi. Sangat tidak lazim memang, kami berdua laki – laki, tetapi akan makan malam sangat istimewa. Namun, ada dua hal yang membuatnya lazim, ia akan memperkenalkanku dengan timnya dan tempat makan kami di restoran hotel berbintang 4. Aku tak bisa menolaknya, lagipula Joan akan mentraktirku sehingga ia tidak ingin ajakannya ditolak.
Berlebihan adalah kata yang tepat untuk malam ini. Joan menyambutku dengan hangat seolah – olah aku telah banyak berjasa padanya, bahkan ia memasukkan sebatang cerutu impor ke dalam saku jasku. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. Sesuai dengan janjinya, ia memperkenalkan aku dengan timnya. Mereka semua friendly, sangat open mind, dan berselera humor. Tidak sia – sia aku mengeluarkan sedikit leluconku.
Tiba – tiba, aku melihat seorang wanita di antara banyak pengunjung yang lain dan di antara para waiter yang sedang sibuk melayani. Ia duduk bersama seorang laki - laki di meja yang berjarak dua meja dari meja kami. Aku melihat dari belakangnya saja, namun yang terlintas yang di benakku bahwa wanita itu adalah Tamara. Entah apa yang membuatku berpikir seperti ini. Atau karena laki – laki yang bersamanya adalah mantan kekasih Tamara sehingga aku ingin memastikannya dengan menghampiri meja mereka tanpa meminta izin kepada Joan dan kawan – kawannya.
Apa yang terjadi adalah dugaanku yang meleset hanya sekitar 1 % dan benar adanya, dia adalah Tamara setelah aku membuatnya berpaling kepadaku dengan menyentuh bahunya yang berlapis gaun hijau yang licin dan menyebut namanya. Aku mencoba menahan emosiku dengan sedikit tersenyum kepada mereka, kemudian sesegera mungkin aku kembali ke mejaku.
Aku memutuskan untuk pamit meninggalkan restoran kepada Joan dan kawan – kawannya dan meminta maaf yang sebesar – besarnya kepada mereka tanpa menghiraukan Joan mengizinkan aku atau tidak. Sesaat kemudian, aku berjalan keluar dan menuju depan stasiun kereta dalam kota yang berada masih di blok yang sama.
Aku berjalan dengan perasaan yang campur-aduk. Dan terus bertanya – tanya dalam hatiku tentang alasan semua ini harus terjadi. Terus saja aku berdebat dengan diriku sendiri mengenai siapa yang harus disalahkan karena tiba – tiba aku ingin membunuh orang yang bersalah.
Tak kuduga, seorang berlari ke arahku dan diikuti beberapa orang yang meneriakinya sebagai penjambret dan pencopet. Memang, lingkungannya sangat ironis, baru saja aku keluar dari hotel bintang 4, aku bisa melihat suasana kalangan ekonomi rendah yang ditemani pedagang kaki lima khusus sekitar stasiun. Namun, emosiku mengajakku untuk turut serta dalam pemandangan yang agak nampak indah ini. Tanpa pikir panjang, aku mengambil sebuah pisau milik seorang tukang rujak buah yang berada di sebelah kananku, tepat sesaat sebelum si pencopet berada di sisi kiriku karena posisiku sedang berjalan di trotoar yang berlawanan arah. Sesaat kemudian, si pencopet tepat di sisi kiriku lalu aku langsung membalikkan badanku dan menghadap bagian belakang tubuh di pencopet, kemudian aku menikamnya. Tikaman pertama berada tepat di bawah leher. Tikaman kedua kuhunuskan sejengkal di bawahnya. Dan tikaman yang terakhir kutancapkan di perut kirinya sambil kuputar mata pisaunya searah jarum jam. Oleh karena itu, ia langsung jatuh tersungkur penuh darah yang mengalir deras keluar dari luka ketiga tikaman tadi.
Saat ia terjatuh, tak jauh dari tempatku berdiri Tamara melihatnya dengan wajah terkejutnya. Menurutku, mungkin ia ingin mengejarku, tetapi aku sudah tak peduli. Aku langsung berbalik kembali lalu kukembalikan pisau yang penuh darah ke tukang rujak dan berterimakasih kepadanya. Orang – orang yang tadi mengejarnya hanya terdiam terkejut. Namun, seorang ibu berterimakasih kepadaku karena tasnya dapat ia peroleh kembali. Aku meminta api kepada salah satu di antara mereka untuk menyalakan cerutuku yang kuambil dari saku jasku, tetapi ia malah memberiku lighter yang cukup keren lalu aku membersihkan tanganku yang terkena noda darah dengan menggunakan sapu tangan yang kuambil dari saku dalam jasku. Ku tanya pada mereka semua mengapa wajah mereka semua begitu serius, kemudian aku berpikir untuk segera meninggalkan tempat kejadian perkara ini setelah aku meminta mereka semua untuk memanggil ambulance.
Sial! Perutku terasa lapar. Seharusnya sekarang aku sedang menyantap setidaknya hidangan pembuka. Langsung saja aku menuju sebuah restoran pizza yang terletak dua blok dari sini dengan berjalan kaki. Beberapa menit aku berjalan sambil menikmati cerutuku yang tak habis – habis, pikiranku sangat kacau, bukan karena perbuatanku tadi, tetapi karena apa yang telah kulihat meski aku berusaha untuk tidak peduli.
Saat aku sampai di restoran, aku segera memesan satu pan ukuran large dengan toping keju, ikan, dan crab juga dua gelas susu coklat hangat, duduk di smoking area karena cerutuku belum juga habis. Pesanan-kupun datang setelah sekitar 15 menit waktu berlalu. Aku mencoba menikmati semuanya agar pikiranku sedikit terbebas karena seingatku, kata om Bondan, sering makanan itu mengajak pikiran kita bermain – main. Tiba – tiba, sekelompok polisi memasuki restoran, ternyata mereka mencariku. Mereka memintaku untuk ikut ke kantor mereka. Awalnya, aku menolak sampai salah satu di antara mereka menembakkan satu peluru ke langit – langit hingga tak disengaja mengenai sebuah lampu gantung dan terjatuh menimpa salah satu di antara mereka sendiri.
Unconditional sekali keadaan seperti ini, aku hanya tidak ingin menjatuhkan wibawa mereka, makanya aku menuruti permintaan mereka dan satu hal lagi yang sangat interested yang bisa kunikmati dengan indera pendengaranku adalah polisi yang memintaku ikut dengan mereka memanggilku dengan sapaan ‘dokter’. Namun, aku juga mempunyai satu permintaan, yaitu aku mau pizza dan susu-ku yang tersisa untuk dibawa juga.
Kini, aku berada di ruang introgasi. Pizza dan susu-ku pun telah kuhabiskan. Juga hantaman yang bertubi - tubi dari seorang polisi yang berkata – kata dengan kepalan tangannya karena pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari seorang yang lain tidak satupun kujawab dengan kata – kata, tetapi hanya dengan senyuman.
Beberapa saat kemudian, keduanya keluar dari ruangan dan hanya aku sendiri duduk sambil merasakan hasil pukulan – pukulan yang baru saja kuterima. Sial! Pizza dan susu-ku keluar lagi semuanya dari mulutku. Anyir sekali. Perih tenggorokanku. Aku mengambil pisau dalam kantung plastik di atas meja dalam ruangan itu yang menjadi barang bukti. Lalu akupun dipanggil keluar oleh petugas lain yang berseragam lengkap. Lalu aku masuk ke ruang lain, ruang kapolres bla bla bla bla. Tanpa kuduga, Tamara dan ibu yang tadi kecopetan ada di ruangan itu. Mereka semua menatapku juga seorang pejabat polisi yang sedang duduk di kursi belakang mejanya dengan 3 keping melati menempel di pundaknya.
Aku duduk karena telah dipersilahkan olehnya. Mereka bercakap – cakap semacam keduanya memberi kesaksian. Namun, aku heran, Tamara memanggil polisi itu dengan kata ‘om’ dan ibu itu dipanggilnya ‘tante’ dengan nada kekeluargaan di antara mereka. Aku hanya bisa mengkerutkan dahi dan alisku sambil memperhatikan mereka terus berbincang. Sesekali salah satu di antara mereka menoleh ke arahku, sedang aku hanya bisa melemparkan senyuman, termasuk kepada Tamara.
Setelah 1 jam penuh debat di antara mereka, aku diperbolehkan untuk meninggalkan kantor polisi ini. Segera aku meninggalkan ruangan itu dengan diantar oleh polisi yang tadi mengantarku ke ruangan itu. Aku menelusuri lorong kantor itu hingga pintu keluar dengan diiringi tatapan – tatapan beberapa officer. Tak lama, aku sudah menuruni anak tangga dan berada di sisi salah satu mobil polisi yang terparkirkan. Sedikit aku merenung, tarik nafas, aku keluarkan pisau dari sakuku, aku buka paksa tutup tangki bensin mobil yang terdekat dariku, dan terakhir aku nyalakan lighter pemberian orang tadi. Sekejap mobilpun meledak, aku terlempar 2 meter dari tempatku berdiri karena tak sempat aku berlari.
Semuanya keluar dan mungkin hanya Tamara yang melihat semuanya yang kemudian meneriakkan namaku, ‘Jemie’, dan aku melemparkan senyuman kecil kepadanya dan ku tanya pada mereka semua dengan teriakan kecil mengapa wajah mereka semua begitu serius, sampai akhirnya aku terbaring lemah.