Posted by: xzyder | 18 Juni 2009

KEGAGALAN

Kegagalan itu berasal dari kata gagal, yang artinya tidak berhasil dalam mencapai suatu targetan yang telah direncanakan sebelumnya. Beberapa kasus, seseorang merasa gagal saat ia tidak puas dengan apa yang telah ia kerjakan atau ia mengalami kegagalan ketika ia tidak mampu mencapai target yang telah ia rencanakan dengan matang. Kegagalan ini bersifat momentum, dalam artian, ia terjadi atau kita alami diiringi kata ketika, saat atau jika yang berupa moment yang membutuhkan persyaratan.

Idealnya, apa yang sebenarnya menyebabkan kegagalan? Bagaimana kegagalan itu bisa terjadi? Dampak apakah yang nantinya muncul ketika mengalami kegagalan? Bagaimana menyikapinya? Atau apa yang harus dilakukan agar tidak mengalami kegagalan, setidaknya meminimalisasi peluang kegagalan atau kegagalan itu sendiri yang akan dialami? Oleh karena itu, sudah selayaknya kegagalan ini dianalisa, dalam bahasa matematikanya adalah untuk menemukan rumus umum dalam menemukan sebuah solusi atau penyelesaian.

Pada dasarnya, ketika merencanakan sesuatu dengan sangat matang, namun tetap saja kegagalan itu akan dialami, mengapa? Banyak faktor di sini, tetapi dapat dipersempit ruang lingkupnya. Sesuatu yang dikerjakan harus selalu memiliki yang namanya tujuan atau target. Saat tujuan tidak tercapai, kegagalanlah yang muncul. Oleh karena itu, tujuan atau target yang hendak dicapai harus memenuhi beberapa poin penting sehingga kegagalan dapat dihindari atau tujuan tersebut dapat tercapai. Pertama, tujuan harus spesifik, tidak hanya menjadi sekedar sesuatu yang hendak dicapai tanpa tahu landasan apa yang harus ada. Semua yang hendak dicapai harus jelas, detail, terperinci, dan dapat berupa poin - poin prioritas. Kedua, tujuan harus bisa diukur, mengandung sifat kuantitatif, tanpa mengesampingkan kualitatifnya yang merupakan tolok ukur antara berhasil dan gagal. Ketiga, tujuan harus bisa dicapai, memiliki peluang keberhasilan yang besar tanpa menghindari yang namanya resiko. Keempat, tujuan haruslah realistis ataupun masuk akal, dalam artian bukan untuk membatasi tujuannya, tetapi manusia itu penuh keterbatasan. Ingatkah dengan peribahasa “Bagai menegakkan benang basah”? Kelima, tujuan harus dilimit dalam jangka waktu tertentu sehingga motivasi yang ada dihabis dimakan oleh waktu yang terus - menerus diulur - ulur. Kelima poin ini mungkin sudah dapat mewakili poin - poin yang harus dipenuhi dalam membentuk tujuan sehingga kecenderungan yang kita lakukan adalah  tidak gagal.

Hal sekecil ini–kegagalan–selalu saja bisa terjadi. Tanpa mengurangi pembahasan, penjelasan pada paragraf sebelumnya sudah cukup menunjukkan bahwa kapan kegagalan itu akan muncul ketika tujuanlah yang menjadi sisi pembacaan. Sekarang, yang akan dibahas adalah dampak dari kegagalan meskipun kegagalan adalah sebuah implikasi. Stress, frustrasi, dan depresi adalah beberapa contoh efek yang sangat buruk bagi kejiwaan, keharmonisan sosial, dan pengalaman. Dampak yang berlebihan adalah ketika kita malah terus menekan diri kita sendiri sehingga semakin rendah diri dan merasa diri kita sangat terbatas terhadap suatu hal. Inilah yang disebut minder, penyakit dalam hubungan sosial. Kita harus membuka pikiran terhadap sebuah kegagalan, dalam hal ini adalah bersikap lapang dada, bukan malah pasrah dan putus asa menerima kegagalan tersebut. Menelaah, merenung dan introspeksi diri sangat diperlukan ketika mendapati kegagalan. Ingat pepatah “Hanya keledai yang terjatuh dua kali pada lubang yang sama”?

Kegagalan dapat dicegah. Lakukan analisa, misal S.W.O.T. Penuhi kelima poin tujuan tersebut.

Ingat pesannya Soekarno, “Capailah langit meskipun ia tak dapat dicapai”? Manusia wajib berihtiar, biarkan Allah yang Menindaklanjuti.

failure

Posted by: xzyder | 19 April 2009

I’m Wrong, Aren’t I?

Aaaah…
Kepala ku pusing, badan ku menggigil, mata ku perih, kedua kaki terasa lemas juga kedua tangan ini terus bergetaran, dada ku terasa sesak padahal baru saja ku bangun tidur. Aku baru ingat kalo semalam ku tidur terlalu larut. Ini semua gara - gara wanita itu sehingga ku harus melakukan dan menerima semuanya. HAH…

Ku ingat, sore itu cakarawala langit selatan hingga barat menjingga, sedang cakrawala langit utara hingga timur diselimuti sedikit awan commulus dan sebagian besar awan stratus yang semakin mendominasi ketika adzan maghrib menyesakkan atmosfer troposfer hingga eksosfer, aku sedang berada di depan meja kerja ku di sudut ruangan yang tidak begitu besar yang dipenuhi oleh satu unit PC dan satu unit laptop tepat di sebelah jendela kecil yang menghadap langit timur. PC ku biarkan bekerja sendiri dengan multitaskingnya, juga aku yang pusing dengan deadline template - template pesanan beberapa situs customer ku. Sebentar ku chat dengan kawanku sebentar ku desain template - template itu sebentar ku cek download film - film yang siap membayar kesibukanku ini.

Tidak terasa sore ku pun termakan oleh cahaya yang purnama yang semakin jelas menerangi langit gelap ini. Aku pikir aku harus istirahat sebentar, lagipula aku belum makan sejak pagi tadi, kerja ku ya itu - itu tadi. Aku putuskan membeli steak tenderloin di restoran tepat di belakang apartemenku ini, tapi anehnya kali ini aku langsung membelinya di restoran tersebut, biasanya aku pesan lewat PC ku ini yang terus tersambung oleh jejaring internasional selama 24 jam atau via telepon dan cukup membayar jasa pengantar.

Sesampainya aku di restoran itu, aku tidak menyangka akan bertemu dengan banyak wajah, tidak peduli lah, yang penting perut kosong ku ini bisa terisi dengan gizi - gizi yang menumpuk di sebuah hotplate steak dan segelas mocha float. Selesai makan, mengurangi sedikit kesendirian ini dengan menghisap sebatang gulungan kertas berisi sedikit gram tembakau kering beraroma daun mint memang agak tepat. Ringan semua, kecuali perutku, langsung aku membayar semua pesananku. Di luar, aku kembali memulai untuk menghabiskan satu batang lagi. Tiba - tiba, aku melihat sepasang pria dan wanita di kursi cafe trotoar tepat di depan restoran yang sedang ku belakangi, dan jelas wanita itu adalah Zasqia yang dua hari yang lalu menolak cinta ku mentah - mentah di apartemennya dengan alasan bahwa aku adalah pria yang terlalu baik baginya. Walaupun aneh, alasan itu masih bisa aku terima, yang tidak habis ku pikir adalah ia membuang seikat mawar dari jendelanya dan tepat jatuh di hadapanku ketika aku telah keluar dari apartemennya. Kemudian, terus saja kuperhatikan tingkah laku mereka yang semakin mesra, dan kuamati ke mana mereka akan pergi sambil terus kuhisap dua hingga lima batang selanjutnya. Setelah aku tahu bahwa mereka memasuki apartemen Zasqia yang hanya berada beberapa blok dari tempatku menghabiskan sebungkus batangan - batangan tembakau beracun, aku kembali ke apartemenku karena dalam waktu yang sedemikian singkat otak ku telah dan mampu merencanakan sesuatu.

Dalam kamarku, aku segera mengganti kemeja lengan pendek ku ini dengan kaos oblong berwarna merah, celana panjang linen dengan jeans ketat, sepatu vantovel kulit asli bandung ku dengan sepatu snicker hitam agak tinggi bermerk produk US, dan tak lupa ku lapisi kaos dengan jaket kulit model army. Ku dekati meja kerjaku, aku mengirim semua pesanan customer ku via email sambil aku mengambil sepucuk revolver Nighthawk berkaliber 90mm x 20mm dan aku hanya mengisi satu tempat peluru full dan satu peluru yang siap ditembakkan. Sebentar kulihat nominal rekening tabungan ku yang terus meningkat di monitor PC.

Dengan sedikit yakin bahwa mereka masih di apartemen Zasqia, aku segera meluncur ke sana tentunya berjalan kaki. Sekitar kurang dari lima belas menit aku sudah berada di lift menuju lantai letak kamarnya Zasqia. Keluar dari lift, aku melangkah dengan penuh perhitungan, tiap satu langkah yang kuyakini adalah ganjaran buruk yang akan segera ku terima nantinya.

Apartemen 808, tanpa mengetuk, aku putar knopnya langsung aku masuk dengan langkah cepat tanpa bersuara lagipula DVD player yang bekerjasama dengan sound system meng-cover langkahku hingga tiba tepat di depan pintu kamar yang terus saja mengeluarkan suara Zasqia mendesah kesakitan tapi tetap menikmati sesuatu yang masih belum aku ketahui hingga ku masuk dengan segera dan melihat semuanya…

A. Serius
Pria itu tersentak dan langsung turun dari ranjang, ia menjauh karena aku memicingkan mulut revolver ku ke arahnya. Tepat ia di dekat jendela, aku menembaki nya dengan tiga peluru berturut - turut yang tepat menghujam tulang dadanya bagian taju pedang yang berani aku pastikan karena aku telah lulus sekolah menembak sebulan yang lalu dengan nilai menyaingi calon - calon atlit menembak dalam negeri, dan kemudian membuatnya ia terpental keluar dengan menembus jendela disertai tubuhnya yang tanpa busana. Sedangkan Zasqia hanya menangis pelan ketakutan sambil membungkus tubuhnya yang dipenuhi lekukan yang indah dengan selembar selimut di atas ranjangnya. Aku mendektinya, aku katakan “sudah jahatkah aku Zas?” dan kupaksa ia untuk oral kemudian mencoba gaya yang barusan ia lakukan dengan pria berkondom itu sambil ia terus menangis sesegukan dan ketakutan sedang aku tetap berpakaian lengkap hanya saja kelamin ku yang kadang - kadang menghirup udara bebas kadang - kadang disesakkan ke dalam lubang yang bau milik Zasqia.

Setelah aku berejakulasi di dalam dan di luar lalu sempat menutup resleting serta mengencangkan sabuk ku, secara kebetulan polisi baru datang dan segera memproses TKP yang ujung - ujungnya adalah penahananku di mabes polisi dengan pengantar adalah interogasi yang diiringi dengan violence. Aku tidur terlalu singkat hingga yang ku rasakan adalah…(pada paragraf pertama)

B. Twist
Zasqia sedang dipijat oleh seorang wanita berwajah oriental cukup cantik. Zasqia tidak terkejut, ternyata ia memang mengundangku via email sepuluh menit yang lalu ia kirim namun tak sempat aku baca. Setelah selesai Zasqia dipijat, aku yang kemudian menikmatinya ditemani hanya selembar zwempak. Agak janggal, beberapa bagian yang ia pijat adalah bukan bagian yang semestinya, tapi yang aku pikirkan adalah menikmati pijatan setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan ku.

Benar, sejam kemudian seluruh badan ku terasa berat dan sakit, Zasqia mendatangi ku dengan pakaian lengkap untuk pergi jauh beserta kopor kecil di tangan kirinya. Ia bilang “Aufwiedersehn, Sayang!” sedang wanita pemijat itu bertanya kepada Zasqia siapa yang akan membayarnya dan Zasqia mengarahkan jari telunjuk nya kepada ku lalu dengan cepat wanita itu menguras isi dompetku yang ku selipkan di saku belakang celana jeans ku. Tidak, aku dibiarkan oleh kedua wanita brengsek itu dengan keadaan seperti ini, aku seperti ditotok, tak berkuasa atas seluruh tubuhku hingga beberapa jam kemudian baru aku bisa tertidur sejenak. Saat terbangun, yang kurasakan adalah…(pada paragraf pertama)

Posted by: xzyder | 29 Maret 2009

MENGAPA WAJAH MEREKA SEMUA BEGITU SERIUS???

Pagi ini, aku mendadak terbangun, seperti pagi – pagi sebelumnya selama seminggu ini. Aku sudah terbangun pukul setengah 5 pagi, biasanya aku terbangun pukul setengah 6 pagi. Ini semua bisa terjadi karena belakangan ini aku mengalami mimpi buruk.
Setelah aku merapikan diriku dan kamarku, aku keluar dari apartemenku untuk membeli sarapan, padahal apartemenku menyediakan pelayanan kamar untuk sarapan, tapi menu yang membosankan telah membuatku tidak memesannya. Aku memutuskan membeli roti bertabur tebal keju parut di Holland Bakery yang tepat berada di seberang apartemenku. Sedangkan minumnya aku sudah membeli hot cappuccino di kedai kopi di lobi utama apartemenku. Aku menikmati keduanya di kursi sekitaran trotoar depan toko.
Daripada aku memikirkan mimpi burukku yang belakangan ini kualami, lebih baik aku mengingat – ingat janji apa saja yang akan kutepati di akhir pekan ini setelah lelah survey bersama teman – teman sekantorku pikirku. Namun, berbicara mengenai pekerjaanku, kebetulan sesuai dengan hasil sekolahku selama ini. Aku seorang lulusan S2 Psikologi di Jerman. Sekarang, aku bekerja di sebuah perusahaan yang meriset segala sesuatu yang berkaitan dengan kejiwaan dan kehidupan sosial masyarakat. Bagaimanapun, kami hanya berwenang sampai mengumpulkan data, tidak pada kesimpulan.
Kembali lagi pada janjiku. Sebenarnya, aku ingin sekali malam ini bersama kekasihku, Tamara. Ia cantik bagiku, aku sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya. Bagaimana tidak, aku sudah menyimpan perasaanku sejak bertemu dengannya ketika SMA dulu. Namun sayang, malam ini ia ada janji dengan teman lamanya. Kebetulan, Joan, temanku saat SMP, mengajakku bertemu petang ini. Ia ingin banyak cerita denganku dan kebetulan lagi, baru saja ia bersama timnya memenangkan tender yang hasilnya tidak kecil.
Aku menikmati sarapanku sambil ditemani burung – burung dara liar. Tiba –tiba, Rosiana, temanku ketika kuliah psikologi di ibukota ini, duduk di sebelahku. Ia tidak begitu cantik bagiku, tetapi seingatku tidak sedikit laki – laki yang ingin menjadi kekasihnya. Kemudian, ia mengajakku mengobrol banyak hal, terutama saat kami kuliah dulu. Ia banyak bercerita karena memang kali ini adalah pertemuan kami yang pertama kali sejak wisuda kami sekitar hampir 6 tahunan yang lalu.
Pertemuan kami tidak singkat. Rosiana kerasan sekali seharian bersamaku. Tidak di satu tempat saja aku berbincang dengannya. Awalnya, di tempat aku menikmati roti dan kopiku. Berlanjut di taman kota, lalu taman bermain. Kemudian, setelah kami makan siang di sebuah restoran sunda, kami menonton film di studio bioskop secara dadakan sehingga mendapat tempat duduk di barisan paling depan. Syukur, bahan pembicaraan aku dan dia tidak ada habisnya.
Tidak terasa, sudah pukul 3 sore. Waktu yang telah memisahkan kami, waktu pula yang telah memberi kami kesempatan untuk bersua. Setelah kami menghabiskan waktu, kami berakhir di sebuah toko es krim. Kami menikmati es krim cone sambil berjalan dan pertemuan kami benar – benar berakhir ketika aku pamit untuk masuk ke apartemenku.
Aneh, aku malah merasakan kesan yang berbeda setelah bertemu dengannya lagi. Rosiana lebih attractive dari sebelumnya. Namun, aku segera membredel pikiranku yang tidak – tidak. Lebih baik aku bersiap untuk bertemu dengan Joan daripada memikirkannya lagi, lagipula ada Tamara di hatiku.
Sore ini, aku berpakaian perlente karena Joan memintaku seperti ini. Dulu kami termasuk dari sedikit murid yang berpakaian rapi. Sangat tidak lazim memang, kami berdua laki – laki, tetapi akan makan malam sangat istimewa. Namun, ada dua hal yang membuatnya lazim, ia akan memperkenalkanku dengan timnya dan tempat makan kami di restoran hotel berbintang 4. Aku tak bisa menolaknya, lagipula Joan akan mentraktirku sehingga ia tidak ingin ajakannya ditolak.
Berlebihan adalah kata yang tepat untuk malam ini. Joan menyambutku dengan hangat seolah – olah aku telah banyak berjasa padanya, bahkan ia memasukkan sebatang cerutu impor ke dalam saku jasku. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. Sesuai dengan janjinya, ia memperkenalkan aku dengan timnya. Mereka semua friendly, sangat open mind, dan berselera humor. Tidak sia – sia aku mengeluarkan sedikit leluconku.
Tiba – tiba, aku melihat seorang wanita di antara banyak pengunjung yang lain dan di antara para waiter yang sedang sibuk melayani. Ia duduk bersama seorang laki - laki di meja yang berjarak dua meja dari meja kami. Aku melihat dari belakangnya saja, namun yang terlintas yang di benakku bahwa wanita itu adalah Tamara. Entah apa yang membuatku berpikir seperti ini. Atau karena laki – laki yang bersamanya adalah mantan kekasih Tamara sehingga aku ingin memastikannya dengan menghampiri meja mereka tanpa meminta izin kepada Joan dan kawan – kawannya.
Apa yang terjadi adalah dugaanku yang meleset hanya sekitar 1 % dan benar adanya, dia adalah Tamara setelah aku membuatnya berpaling kepadaku dengan menyentuh bahunya yang berlapis gaun hijau yang licin dan menyebut namanya. Aku mencoba menahan emosiku dengan sedikit tersenyum kepada mereka, kemudian sesegera mungkin aku kembali ke mejaku.
Aku memutuskan untuk pamit meninggalkan restoran kepada Joan dan kawan – kawannya dan meminta maaf yang sebesar – besarnya kepada mereka tanpa menghiraukan Joan mengizinkan aku atau tidak. Sesaat kemudian, aku berjalan keluar dan menuju depan stasiun kereta dalam kota yang berada masih di blok yang sama.
Aku berjalan dengan perasaan yang campur-aduk. Dan terus bertanya – tanya dalam hatiku tentang alasan semua ini harus terjadi. Terus saja aku berdebat dengan diriku sendiri mengenai siapa yang harus disalahkan karena tiba – tiba aku ingin membunuh orang yang bersalah.
Tak kuduga, seorang berlari ke arahku dan diikuti beberapa orang yang meneriakinya sebagai penjambret dan pencopet. Memang, lingkungannya sangat ironis, baru saja aku keluar dari hotel bintang 4, aku bisa melihat suasana kalangan ekonomi rendah yang ditemani pedagang kaki lima khusus sekitar stasiun. Namun, emosiku mengajakku untuk turut serta dalam pemandangan yang agak nampak indah ini. Tanpa pikir panjang, aku mengambil sebuah pisau milik seorang tukang rujak buah yang berada di sebelah kananku, tepat sesaat sebelum si pencopet berada di sisi kiriku karena posisiku sedang berjalan di trotoar yang berlawanan arah. Sesaat kemudian, si pencopet tepat di sisi kiriku lalu aku langsung membalikkan badanku dan menghadap bagian belakang tubuh di pencopet, kemudian aku menikamnya. Tikaman pertama berada tepat di bawah leher. Tikaman kedua kuhunuskan sejengkal di bawahnya. Dan tikaman yang terakhir kutancapkan di perut kirinya sambil kuputar mata pisaunya searah jarum jam. Oleh karena itu, ia langsung jatuh tersungkur penuh darah yang mengalir deras keluar dari luka ketiga tikaman tadi.
Saat ia terjatuh, tak jauh dari tempatku berdiri Tamara melihatnya dengan wajah terkejutnya. Menurutku, mungkin ia ingin mengejarku, tetapi aku sudah tak peduli. Aku langsung berbalik kembali lalu kukembalikan pisau yang penuh darah ke tukang rujak dan berterimakasih kepadanya. Orang – orang yang tadi mengejarnya hanya terdiam terkejut. Namun, seorang ibu berterimakasih kepadaku karena tasnya dapat ia peroleh kembali. Aku meminta api kepada salah satu di antara mereka untuk menyalakan cerutuku yang kuambil dari saku jasku, tetapi ia malah memberiku lighter yang cukup keren lalu aku membersihkan tanganku yang terkena noda darah dengan menggunakan sapu tangan yang kuambil dari saku dalam jasku. Ku tanya pada mereka semua mengapa wajah mereka semua begitu serius, kemudian aku berpikir untuk segera meninggalkan tempat kejadian perkara ini setelah aku meminta mereka semua untuk memanggil ambulance.
Sial! Perutku terasa lapar. Seharusnya sekarang aku sedang menyantap setidaknya hidangan pembuka. Langsung saja aku menuju sebuah restoran pizza yang terletak dua blok dari sini dengan berjalan kaki. Beberapa menit aku berjalan sambil menikmati cerutuku yang tak habis – habis, pikiranku sangat kacau, bukan karena perbuatanku tadi, tetapi karena apa yang telah kulihat meski aku berusaha untuk tidak peduli.
Saat aku sampai di restoran, aku segera memesan satu pan ukuran large dengan toping keju, ikan, dan crab juga dua gelas susu coklat hangat, duduk di smoking area karena cerutuku belum juga habis. Pesanan-kupun datang setelah sekitar 15 menit waktu berlalu. Aku mencoba menikmati semuanya agar pikiranku sedikit terbebas karena seingatku, kata om Bondan, sering makanan itu mengajak pikiran kita bermain – main. Tiba – tiba, sekelompok polisi memasuki restoran, ternyata mereka mencariku. Mereka memintaku untuk ikut ke kantor mereka. Awalnya, aku menolak sampai salah satu di antara mereka menembakkan satu peluru ke langit – langit hingga tak disengaja mengenai sebuah lampu gantung dan terjatuh menimpa salah satu di antara mereka sendiri.
Unconditional sekali keadaan seperti ini, aku hanya tidak ingin menjatuhkan wibawa mereka, makanya aku menuruti permintaan mereka dan satu hal lagi yang sangat interested yang bisa kunikmati dengan indera pendengaranku adalah polisi yang memintaku ikut dengan mereka memanggilku dengan sapaan ‘dokter’. Namun, aku juga mempunyai satu permintaan, yaitu aku mau pizza dan susu-ku yang tersisa untuk dibawa juga.
Kini, aku berada di ruang introgasi. Pizza dan susu-ku pun telah kuhabiskan. Juga hantaman yang bertubi - tubi dari seorang polisi yang berkata – kata dengan kepalan tangannya karena pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari seorang yang lain tidak satupun kujawab dengan kata – kata, tetapi hanya dengan senyuman.
Beberapa saat kemudian, keduanya keluar dari ruangan dan hanya aku sendiri duduk sambil merasakan hasil pukulan – pukulan yang baru saja kuterima. Sial! Pizza dan susu-ku keluar lagi semuanya dari mulutku. Anyir sekali. Perih tenggorokanku. Aku mengambil pisau dalam kantung plastik di atas meja dalam ruangan itu yang menjadi barang bukti. Lalu akupun dipanggil keluar oleh petugas lain yang berseragam lengkap. Lalu aku masuk ke ruang lain, ruang kapolres bla bla bla bla. Tanpa kuduga, Tamara dan ibu yang tadi kecopetan ada di ruangan itu. Mereka semua menatapku juga seorang pejabat polisi yang sedang duduk di kursi belakang mejanya dengan 3 keping melati menempel di pundaknya.
Aku duduk karena telah dipersilahkan olehnya. Mereka bercakap – cakap semacam keduanya memberi kesaksian. Namun, aku heran, Tamara memanggil polisi itu dengan kata ‘om’ dan ibu itu dipanggilnya ‘tante’ dengan nada kekeluargaan di antara mereka. Aku hanya bisa mengkerutkan dahi dan alisku sambil memperhatikan mereka terus berbincang. Sesekali salah satu di antara mereka menoleh ke arahku, sedang aku hanya bisa melemparkan senyuman, termasuk kepada Tamara.
Setelah 1 jam penuh debat di antara mereka, aku diperbolehkan untuk meninggalkan kantor polisi ini. Segera aku meninggalkan ruangan itu dengan diantar oleh polisi yang tadi mengantarku ke ruangan itu. Aku menelusuri lorong kantor itu hingga pintu keluar dengan diiringi tatapan – tatapan beberapa officer. Tak lama, aku sudah menuruni anak tangga dan berada di sisi salah satu mobil polisi yang terparkirkan. Sedikit aku merenung, tarik nafas, aku keluarkan pisau dari sakuku, aku buka paksa tutup tangki bensin mobil yang terdekat dariku, dan terakhir aku nyalakan lighter pemberian orang tadi. Sekejap mobilpun meledak, aku terlempar 2 meter dari tempatku berdiri karena tak sempat aku berlari.
Semuanya keluar dan mungkin hanya Tamara yang melihat semuanya yang kemudian meneriakkan namaku, ‘Jemie’, dan aku melemparkan senyuman kecil kepadanya dan ku tanya pada mereka semua dengan teriakan kecil mengapa wajah mereka semua begitu serius, sampai akhirnya aku terbaring lemah.

Posted by: xzyder | 4 Januari 2009

Target 2009 : Perut Six-Pack

Kalau di pencinta-wanita.com, laki - laki bakal berenang di tujuh samudera demi perut six-pack yang dianggap banyak laki - laki sebagai pujaan wanita. Memang terdengar agak hina jika pernyataan ini disajikan seperti itu. Namun, di sisi lain, perut six-pack merupakan tampilan laki - laki yang menjaga penampilan dan yang paling utama, kesehatannya. Menurut binaragawan kita, Ade Rai, mendapatkan otot six-pack tidaklah mudah, singkatnya ya sulit dan butuh banyak pengorbanan. Sebaliknya, justru banyak laki - laki yang terus mati - matian berusaha untuk mendapatkan otot perut six-pack, ke gym setiap hari, bangun pagi untuk olahraga, mengurangi porsi makan, dan lain - lain.

Di luar itu semua, gw mencoba membuat target yang dimulai di awal 2009 ini, yaitu mendapatkan perut six-pack. Tujuannya sederhana, menjaga kestabilan berat badan dan membentuk otot perut yang sudah lumayan lentur. Untuk ukuran badan gw, otot perut yang lumayan lentur ini sebenarnya agak ganjil. Dan untuk mendapatkan six-pack, gw berkemungkinan bakal mati - matian. Bukan utama bagi gw mendapatkan wanita dari perut six-pack, lagipula gw sudah ada wanita, tetapi kurang srek saja bila gw tidak memiliki perut six-pack. Selain itu, ini dapat dijadikan target 2009 yang sangat berharga karena bagi gw, ini memiliki beban moral yang lebih dibandingkan hal lain yang bakal gw temukan di 2009 ini.

Mengimbangi otak dengan otot atau sebaliknya adalah hal yang tidaklah salah bagi gw, namun gw masih belum mempunyai strategi yang tepat tanpa harus mengeluarkan uang sedikitpun untuk pergi ke gym karena dikhawatirkan gw malah menjadi down akibat target yang cukup menggairahkan ini. Inilah yang membuat gw gagal memperoleh perut six-pack di tahun sebelumnya. Strategi yang gw butuhkan untuk menghadapi kendala yang bakal muncul di depannya juga belum gw dapatkan. Tetapi mumpung masih awal tahun, target ini masih fresh dan masih realistis untuk dicapai.

Pokoknya, sambil menyelam minum air, eitz, tenggelam donk?! Bukan semacam itu yang dimaksud, melainkan mengejar target sambil memperoleh strategi. Ini tantangan bagi teman - teman yang ingin ikut pemilihan model L-MEN 2009. Di sini awal motivasi dan tantangan bagi kalian para laki - laki yang mempunyai target yang sama di tahun ini.

Posted by: xzyder | 14 Desember 2008

Komunitas Malas Kuliah

Kuliah berada di dalam kelas, berapa lamanya tergantung jumlah sks yang harus dipenuhi. Pada umumnya, 1 sks itu selama 45 sampai 50 menit, itulah waktu minimal yang harus dinikmati para mahasiswa dengan berbagai perasaan, tergantung juga bagaimana cara dosen mereka menyampaikan materi kuliah kepada mereka. Ini dapat dikatakan sebagai latar belakang beberapa mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi meraka dengan sikap yang begitu relatif, malas lalu bolos.

Alasan lamanya waktu dan cara dosen mengajar tidak cukup untuk menuntun mahasiswa untuk bolos kuliah. Lamanya di dalam kelas paling hanya membuat beberapa mahasiswa jenuh, menarik atau tidak materi yang disampaikan dosen, tetapi ini dapat diatasi dengan tidur yang relatif lebih baik ketimbang diskusi dengan teman sebelah dengan berbagai tema sesuai dengan realita yang terjadi pada mahasiswa tersebut, gossip, curhat, tebak-tebakan, menilai dosen yang sedang mengajar, atau mungkin diskusi seputar kapitalisme. Cara dosen mengajar juga masih dapat diatasi dengan hal-hal yang sama dengan mengatasi lamanya berada di dalam kelas. Oleh karena itu, masih ada banyak alasan lainnya, keranjingan game, organisasi, dagang, online; betah di rumah; nongkrong bareng atau hang out ataupun pacaran; dll.

Malas kuliah bukan berarti malas untuk menimba ilmu di dalam kelas, melainkan  hanya saja merupakan efek dari terjadinya ketidak-seimbangan antara mahasiswa dengan system atau kurikulum yang diterapkan di dalam kelas atau juga berbedanya cara pengajaran yang diberikan oleh setiap dosen kepada mahasiswa. Bila diperhatikan lebih dalam, malas kuliah adalah hal yang sangat sederhana, tetapi efeknya sangat signifikan. Misalnya, bila malas kuliah, mahasiswa cenderung bolos dan efeknya kurangnya materi yang diperoleh, maksudnya tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum sehingga minim ilmu. Namun, ini dapat terbantahkan dengan sebagian mahasiswa yang malah bersikap inisiatif dengan mencari ilmu di luar tuntutan kurikulum, baik sesuai jalur kurikulum maupun pengetahuan baru lainnya.

Sangat tidak dewasa jika seorang mahasiswa yang malas kuliah lalu bolos tanpa ada progress sampingan. Beberapa mahasiswa yang keasyikan mencari uang dengan ilmunya tanpa bantuan kurikulum, bahkan ia malas berkuliah. Beberapa lagi, terjebak di dunia virtual (internet, sebut saja seperti itu) hingga ia lupa dengan pentingnya kuliah, tetapi ia memiliki pengetahuan yang lebih ketimbang mahasiswa yang terjebak di kelas. Beberapa lainnya yang ngegame ria, akhirnya termotivasi untuk membuat game yang lebih mengasyikkan bagi dirinya. Beberapa contohnya, dapat dicari lewat google.

Komunitas malas kuliah bukan mengiyakan untuk bolos dari kelas, melainkan hanya mengupas kemalasan mahasiswa untuk berkuliah dari sisi lain. Jika ada mahasiswa yang malas kuliah, sebaiknya menjadi sisi lain dari kemalasannya, tetapi jika memang hanya sekedar bolos, itu adalah pilihan, jangan lupa TA, titip absen.

Posted by: xzyder | 15 Juli 2008

PULANG KAMPUNG

Akhirnya, pulang juga. Apalagi kalo bukan Cheepoethatz (.red ciputat) Rock City.

Asal tau aja Lu, sekarang kota gw udah ada flyover-nya, dibangun di atas pasar Ciputat. Katanya sih, dibangun ama kontraktor asal Jepang, kagak tanggung-tanggung budget-nya abis ampe 400M, Milyar gitu. Tapi sayangnya, nih rencana ngebangun flyover dari abang masih merah sampe abang gw mau kawin (emang ada yang mau kawin ama dia?). Nah, gw kagak pengen pejabat lokal ngerasa sok pahlawan, ngerasa ikut ngebangun nih flyover, padahal kerjanya cuma tidur, ngelindur, ngelantur, dan lebih baik dilindas sepur.

Nih, pas lagi dibangun, macetnya minta ampun, capek deh.

Gw sempet ngerasain waktu pulang sekolah. Ampun deh! Tapi sekarang itu semua udah jadi kenangan warga Ciputat, sekarang yang ada di hati mereka ya sebuah pride atas Ciputatnya yang sedikit berubah prestisenya.

Nih, hasilnya. Lumayan, sedikit mengurangi kemacetan.
Gw sangat ngerasa seneng, apalagi setelah setahun merantau ke timur. Ketika pulang, eh, udah jadi.

Oh iya, gambar-gambar di atas hasil searching gw di google. Terima kasih buat yang udah posting seputar flyover Ciputat, para kuli, para pejabat yang ikut ngelobby, warga yang udah mau bayar pajak, terutama warga Ciputat.

Categories