Randomance Lanjutan (Part Ikan Bakar)

1 03 2012

Mana ikannya?

Masih ingat kalimat pembuka yang diberikan teman saya kepada saya di postingan sebelumnya? Ya, saya mengajak Sher ke Ikan Bakar 52 di daerah Pasar Besar. Sejujurnya, perut saya juga lebih kenyang mungkin. Oleh karena itu, saya punya ide untuk berjalan - jalan dulu di sekitaran alun - alun Kota Malang.

Setelah melewati pertigaan Ramayana, saya parkir di sebelah kanan. Saya terbiasa parkir di situ jika saya bermain di alun - alun dengan teman - teman saya. Saya memintanya turun karena saya harus memarkirkan motor saya. Dia tertegun datar. Entah apa yang di pikirannya saya tidak berani menebak karena cukup random malam ini.

“Di mana nih kita?”

“Ini namanya alun - alun Kota Malang.”

“Lho? Katanya kota, kok itu kantor Bupati?” tukas Sher dengan kekritisannya.

“Ahahaha, ya beginilah Kota Malang. Aku juga nggak gitu paham.”

“Kalo nggak salah, kantor Walikotanya di Tugu kan yah?”

“Ho oh…” saya tidak perlu bertanya tentang pengetahuannya, itu karena dia pernah ke Malang sebelumnya.

Kantor Bupati Malang

Kantor Bupati Malang

Kami mulai berjalan mengelilingi alun - alun. Beberapa percakapan dan canda ringan bermunculan secara random. Apalagi saat kami melewati di bawah kandang burung. Tiba - tiba beberapa ekor burung membuang kotoran dari atas dan kotoran itu jatuh tepat di depan kami.

“Weits…! Hampir aja!” refleks saya menarik lengan kirinya.

“Aduh… aduh…! Pelan - pelan, sakit tau!”

“Pilih sakit dikit ato kena itu tuh?!” saya menunjuk kotoran yang jatuh tepat di depannya.

“Hah? Hahaha….” Sher terperangah, kemudian tertawa random.

Ikan Bakar 52

Ikan Bakar 52

Jalan kami terlalu cepat, mungkin karena kurang saling mengenal. Setelah hampir sampai parkiran, saya mengajaknya menyeberang jalan melalui zebra cross. Berjalan menuju Ikan Bakar 52.

“Mau ke mana nih kita?”

“Itu.” saya hanya menunjuk papan reklamenya.

Masuklah kami ke dalamnya. Seorang pramusaji menyambut dan mengantar kami ke meja. Sekali lagi, Sher melilitkan tangannya di tangan kiri saya untuk sekedar mengalihkan perhatian orang - orang yang memperhatikannya. Bagaimana tidak, mana mungkin ada seorang ‘diva’ (bagi saya) yang berjalan mesra dengan seorang saya yang saat itu berjaket abu - abu lusuh.

Di meja, saya dengannya berdiskusi mengenai menu.

“Kamu mau apa?”

“Hmm… aku liat dulu deh.”

“Aku jadi inget twit kamu, Sher.”

“Apa itu?” sambil melihat - lihat menu.

“Kalo nggak salah gini, ‘Adele sikat 6 penghargaan Grammys. Sherina sikat 6 potong udang goreng. Hiks.’ Ahahaha…” saya tambah dengan tertawa random.

“Hahaha….” Sher mengalihkan pandangannya dari menu ke saya dengan sedikit terkejut tidak percaya, lalu ikut tertawa.

“Nah, nggak mesen itu aja?”

“Kamu nggak ada rekomendasi menu nih?”

“Ya ada lah… sebelumnya aku pernah ke sini sama temen - temen, dan itu cewe semua.”

“Kamu juga cewe?”

“Ahahaha, anjrit dah, fleksibel aku ini!” balas saya.

“Terus? Terus?”

“Nah, waktu itu kita mesen Gurame Bakar Sambal Mangga. Ini lho, Sher!” saya menunjuk tulisan yang ada di menu.

Ya, beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman - teman saya memesan menu tersebut. Awalnya, kami mencari yang berkuah sehingga saya memesan Sapo Tahu. Namun, ketika ketiga lidah mereka bersentuhan dengan bumbu sambal mangga yang tersebar di atas ikan gurame itu seakan mereka lupa dengan yang berkuah. Sensasi pedas yang diberikan sangat minim karena menggunakan irisan cabai, rasa asam yang disajikan sangat natural yang berasal dari potongan tipis mangga muda, dan rasa manisnya itu mungkin gula. Dalam bahasa gaulnya, itu disebut ‘padu’.

Banyak menu lainnya yang disajikan di sini. Untuk yang berkuah disajikan dengan ringan tapi tetap terasa rempahnya. Ya mohon maaf saya tidak hafal karena saya termasuk lelaki yang membutuhkan replay goal pada pertandingan sepakbola di televisi.

Akhirnya, saya memesan menu Ikan Gurame Bakar Sambal Mangga dan Sher memesan udang tepung. Sembari menunggu pesanan, saya mencoba membuka pembicaraan.

“Eh besok pesawat jam berapa?”

“Pagi sih, jam 6 mungkin.” tukasnya dengan kurang yakin.

“Oh iya, aku masih penasaran, tempat ngajarnya ibu kamu itu di sebelah mana sih?”

“Seinget aku sih ya di Bintaro itu, Jombang gitu deh.”

“Hadeuh, itu tuh deket rumah aku, makanya penasaran nih.”

“Lho? Emang kamu tinggal di mana?”

“Ciputat situ, ya daerah - daerah sekitaran situ dah.”

“Hmmm.. gue pikir lo tinggal di sini.” cara bicaranya tiba - tiba berubah random.

“Berarti pikiran lo yang salah, ahahaha…”

“Udah ah, nggak usah ngomongin ibu, kepo banget sih lo!”

“Anjrit dah, eh tuh dateng tuh pesenan kita.”

“Ah sotoy lu, ahahaha… udah ah, ngomong kayak tadi aja, lebih damai.” tambahnya dengan senyum kecil.

Saya langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan. Sher mengikuti saya untuk cuci tangan.

“Lho? Gantian dong, Sher! Itu meja siapa yang jaga?”

“Ngapain dijaga?! Itu meja nggak ke mana - mana kok.”

“Jiaaah…” saya pukul kecil kepalanya dengan santainya, lalu saya menuju meja.

Setelah makan, Sher tampak cukup puas. Saya benar - benar memuaskan (LHO??? Ahahaha…). Waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 waktu Indonesia bagian Malang. Saya pikir sudah waktunya mengembalikan dia ke hotel. Kemudian saat menuju parkiran di alun - alun, saya tidak menawarinya lagi sebuah kuliner. Saya berusaha menghentikan kerandoman malam ini.

Saat kami keluar dari parkiran, saya mengajaknya kembali ke hotel.

Kerandoman saya hentikan sampai sini, ditunggu postingan berikutnya.

SAMBUNGAN.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Actions

Information



Leave a comment

You can use these tags : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>